Jumat, 11 Desember 2020

RHEUMATOID ARTHRITIS

 RHEUMATOID ARTHRITIS



Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyebab tersering inflamasi sendi kronik. RA adalah penyakit inflamasi autoimun - sistemik, progresif dan kronik yang mempengaruhi banyak jaringan dan organ, namun pada prinsipnya merusak sendi-sendi sinovial. Proses inflamasi ini memproduksi respon inflamasi dari sinovium (sinovitis) sehingga menyebabkan hiperplasia sel-sel sinovium, produksi berlebih cairan sinovial, dan terbentuknya pannus pada sinovium. Proses inflamasi ini seringkali berujung pada kerusakan tulang rawan sendi dan ankilosing sendi. Karakteristik yang paling sering ditemui adalah polyarthritis simetris dan tenosinovitis, morning stiffness, peningkatan LED, serta gambaran autoantibodi yang mentarget immunoglobulin (faktor rheumatoid) dalam serum.


PATOFISIOLOGI

Mekanisme terjadinya rheumatoid arthritis tidak dipahami secara jelas. Pemicu eksternal (Seperti meroko, infeksi dan trauma) memulai reaksi autoimun yang akhirnya mengarah pada hipertrofi synovial dan inflamasi sendi kronis. Hiperplasia sel synovial dan aktivasi sel endothelial merupakan kejadian awal pada proses patologis dimana terjadi inflamasi tak terkontrol. selanjutnya kartilago dan tulang mengalami destruksi. faktor genetik dan sistem imun berkontribusi pada proses penyakit ini. Sel T CD4, Fagosit mononuclear, fibroblas, osteoklas dan neutrophil memainkan peran utam apatofisiologi rheumatoid arthritis, sementara sel B memproduksi autoantibodi.


MANIFESTASI KLINIK

1. Kaku pada pagi hari

2. Arthritis pada 3 regio

3. Arthritis pada persendian tangan

4. Arthritis simetris

5. Nodul reumatoid

6. Faktor reumatoid serum positif

7. Terdapat perubahan gambaran radiologuis yang khas pada pemeriksaan sinar rontgen tangan posteroanterior atau pergelangan tangan


TERAPI FARMAKOLOGI

Tujuan terapi RA adalah mengurangi nyeri dan pembengkakan pada sendi, menghilangkan kekakuan sendi, dan mencegah pengrusakan sendi lebih lanjut. Sejak tahun 1990, dikenal suatu standar reumatologi dalam menangani RA, dinamakan Piramida Terapi RA. Penderita RA memulai pengobatan mereka dengan DMARDs (Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs) seperti metotreksat, sulfasalazin dan leflunomid.



FARMAKODINAMIK SULFASALAZIN

Sulfasalazine adalah obat antiperadangan yang digunakan untuk meredakan gejala radang usus atau kolitis ulseratif, berupa nyeri perut, demam, diare, atau perdarahan pada bagian akhir usus besar (rektum). Selain itu, obat ini juga digunakan untuk menangani rheumatoid arthritis yang tidak mampu ditangani oleh pengobatan lain.

Sulfasalazine memiliki komponen aktif yang terdiri sulfapiridin dan 5-aminosalisilat yangdiikat oleh ikatan-azo yang dipecah oleh bakteri di kolon. efek utama sebagai antiinflamasi dari 5-ASA yang menghambat sintesis leukotriene dan lipoxygenase. Selain itu, komponen sulfapiridin memberikan efek anti bakteri dengan menghambat p-aminobenzoic acid yang dibutuhkan kuman untuk membentuk asam folat dalam sintesis DNA. 


FARMAKOKINETIK SULFASALAZINE

Penyerapan

15% dari dosis diserap dari usus halus, sisanya mencapai usus besar dimana ikatan azo dibelah oleh flora usus, menghasilkan sulfapyridine dan asam 5-aminosalicylic (mesalazine). 60% sulfapyridine dan 10-30% asam 5-aminosalicylic diserap dari usus besar.

Distribusi

Mengikuti admin IV, volume distribusi adalah 7,5 L. Sulfasalazine dan sulfapyridine melintasi plasenta dan ditemukan dalam ASI. Sulfasalazine secara ekstensif terikat protein sementara sulfapyridine didistribusikan ke sebagian besar jaringan tubuh.

Metabolisme

Sulfapiridin yang diserap mengalami metabolisme ekstensif dengan asetilasi, hidroksilasi, dan glukuronidasi. Asetilator lambat 2-3 kali lebih mungkin mengalami efek samping dari sulfapiridina dibandingkan asetilator cepat. Asam 5-aminosalisilat yang terserap mengalami asetilasi.

Waktu paruh

T1 / 2 dari sulfasalazine 5-10 tidak, sulfapyrydyna - 6-14 tidak, 5-ASK - 0.6-1.4 tidak. Sejak kotoran berasal 5 % dan sulfapyridine 67 % 5-ASK; 75-91 % sulfasalazine diekskresikan oleh ginjal dalam 3 hari.

Ekskresi

Melalui urin, sebagai sulfasalazine tidak berubah (15%), sulfapyridine dan metabolitnya (60%), dan asam 5-aminosalisilat dan metabolitnya (20-33%).


REFERENSI 


Fauzi, A. 2019. Rheumatoid Arthritis. JK Unila. Vol 3(1): 167-175.

Muizzulatif, M., A. Sukohar dan N. A. V. Irawati. 2019. Efektivitas Pengobatan Herbal Untuk Rheumatoid Arthritis. Jurnal Majority. Vol 8(1): 206-210.


PERTANYAAN

1. Bagaimana farmakodinamik Sulfasalazine dalam pengobatan Arthritis kronis remaja (JCA)?

2. Jelaskan proses Sulfasalazine dapat menghambat proses penyerapan asam folat dalam tubuh?

3. Mengapa pada saat eksresi sebesar 15% sulfasalazine tidak berubah?

HEMATOLOGI II: FIBRINOLISIS DAN ANTIFIBRINOLITIK

 1. FIBRINOLISIS

Degradasi bekuan darah dikenal sebagai fibrinolisis. fibrinolisis merupakan suatu penyakit yang disebabkab oleh pembentukan plasmin yang berlebihan di dalam tubuh. Fibrinolisis yang berlebihan dapat disebabkan oleh peningkatan kadar t-PA, defisiensi alfa 2-anti plasmin atau defisiensi aktivator inhibitor plasminogen-1 (PAI-1). Fibrinolisis yang berlebihan ini dapat menyebabkan kecenderungan perdarahan. Untuk mengatasi penyakit ini dapat digunakan obat trombolitik yang memiliki manfaat sebagai pengobatan infark miokard. adapun contoh obat golongan ini adalah Streptokinase, urokinase, anistreplase, dan alteplase.

Farmakodinamik  

Urokinase awalnya diisolasi dari urin manusia, dan juga terdapat dalam darah dan matriks ekstraseluler dari banyak jaringan. Substrat fisiologis utama enzim ini adalah plasminogen , yang merupakan bentuk tidak aktif ( zymogen ) dari serine protease plasmin . Aktivasi plasmin memicu kaskade proteolitik yang, bergantung pada lingkungan fisiologis, berpartisipasi dalam trombolisis atau degradasi matriks ekstraseluler. Riam ini telah terlibat dalam penyakit pembuluh darah dan perkembangan kanker. 

 

Farmakokinetik 

Penyerapan : Urokinase diberikan secara intravena, sehingga memiliki bioavailabilitasnya tinggi

Distribusi : Volume distribusi urokinase adalah 11,5 L

Metabolisme : Hati, cepat dibersihkan dari sirkulasi setelah pemberian IV

Ekskresi : 20 menit (eliminasi waktu paruh)


Interaksi dengan obat lain

1. Efek trombolitik berkurang ketika diberikan lagi beberapa waktu kemudian karena perkemabngan antibodi yang tinggi

2. Penghambat trombosit misalnya aspirin dan indometasin dapat meningkatkan kerja urokinase dan menyebabkan perdarahan

3. Heparin dan antikoagulan oral dapat meningkatkan risiko perdarahan


2. ANTIFIBRINOLITIK

Antifibrinolitik merupakan suatu obat yang digunakan sebagai terapi yang dapat mencegah terjadinya resiko re-bleeding. Cara kerja Antifibrinolitik yaitu  bekerja dengan cara menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin, mencegah break-up dari fibrin dan menjaga stabilitas menggumpal. contoh obat antifibrinolitik ini ada Asam Traneksamat, Asam amino kaproic.



Farmakodinamik

Obat ini biasanya digunakan untuk menghambat adanya aktivator plasminogen yang telah mendegradasi bekuan fibrin di dalam pembuluh darah. Sistem kerjanya sebagai inhibitor sintetis yang berasal dari sistem plasminogen yang berubah menjadi plasmin. 

Dimana saat terjadinya pemecahan mata rantai di dalam pembuluh darah plasminogen akan diubah menjadi plasmin. Dimana aktivitas ini menyebabkan adanya peningkatan aktivitas enzim yang berakibat terjadinya Hiperfibrinolisis yang berujung pada terjadinya pendarahan hebat.

Farmakokinetik

Absorpsi: Diserap secara cepat dan seluruhnya dari saluran pencernaan.

Bioavaibilitas: 100% (oral)

Waktu konsentrasi plasma puncak: dalam 2 jam (oral)

Distribusi: Didistribusikan secara meluas melalui kompartemen intravaskuler dan ekstravaskuler.

Volume distribusi: 23 liter (oral); 30 liter (IV)

Metabolisme: Dimetabolisme secara minimal di dalam hati

Ekskresi: melalui urin (65% sebagai obat tidak diubah, sekitar 11% sebagai metabolit)

Paruh waktu eliminasi: 1-2 jam

Interaksi obat

1. Meningkatkan pengaruh trombogenik dengan oral tretinoin

2. Dapat meningkatkan risiko thrombosis dengan konsentrat fibrinogen
Berpotensi fatal: Dapat meningkatkan risiko thrombosis dengan faktor kompleks IX dan kompleks koagulan anti-inhibitor


REFERENSI

Zahro, R dan Istiroha. 2019. Asuhan Keperawatan Pada Kasus Hematologi. Jakad Publishing, Surabaya.

Doda, D. V. D., H. Polii., S. R. Marunduh dan I. M. Sapulete. 2020. Buku Ajar Fisiologi Sistem Hematologi. Deepublish, Yogyakarta.

PERTANYAAN 

1. Bagaimana Farmakodinamik Asam amino caproic untuk mengatasi pendarahan pada penderita sirosis hati?

2. Jelaskan cara yang paling efektif untuk meningkatkan bioavailabilitas dari urokinase?

3. Apa dampak akibat pengikatan urokinase tipe plasminogen pada permukaan sel?

Senin, 30 November 2020

HEMATOLOGI I: Pembekuan Darah dan Antikoagulan


 HEMATOLOGI


Hematologi adalah suatu sistem yang tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Darah berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan di dalam tubuh. 

Darah

Di dalam tubuh darah berperan sebagai medium transpor tubuh, volume daraha pada tubuh manusia sekitar 7%-10% dari berat badana normal dan berjumlah sekitar 5 liter.jumlah darah dal tubuh setiap orang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh darah. 

        Dua komponen utama dara, yaitu

        1. Plasma darah, tersusun atas air, elektrolit, dan protein darah.

        2. Butir-butir darah (blood corpuscles), tersusun atas eritrosit, leukosit, dan trombosit.

Proses Pembekuan Darah

Proses pembekuan darah melibatkan 3 komponen, yaitu:

1. Komponen Vaskuler atau pembuluh darah, terlibat dalam proses vasokonstriksi

2. Trombosit, membentuk sumbat trombosit

3. Faktor-faktor koagulasi darah di dalam plasma daraah yang berperan membentuk benag-benag            fibrin atau bekuan darah yang lebih stabil. 

    

- Vasokonstriksi

Saat terjadi luka pembuluh darah akan segera berkontraksi dengan tujuan menurunkan aliran darah keluar dari pembuluh darah yang terluka.ada beberapa faktor yang mempengaruhi kontraksi pembuluh darah, yaitu:

  • Spasme miogenik lokal
  • Faktor-faktor autakoid lokal
  • Refleks sistem saraf

Pembentukan Sumbat Trombosit

pada saat dinding pembuluh darah rusak maka karakteristiknya juga akan berubah dengan cepat. Protein-protein kontraktil pada trombosit berkontraksi dan menyebabkan pengeluarangranula-granula yang mengandung berbagai faktor yang aktif. lalu trombosit akan menjadi lengket dan melekat pada kolagen jaringan yang terluka dan pada suatu protein yang disebut von willebrand factor.  

- Koagulasi Darah

Proses pembekuan darah dapat terjadi dalam waktu 15-20 menit bila trauma sangat parah dan sekitar 1-2 menit bila trauma kecil. terdapat beberapa substansi yang menginisiasi proses koagulasi darah, yaitu zat pengaktif dari pembuluh darah yang mengalami trauma, substansi yang dikeluarkan dari trombosit dan dari protein-protein darah

ANTIKOAGULAN

antikoagulan biasa digunakan untuk proses pembekuan darah. antikoagulan sering digunakan oleh pasien yang memiliki gangguan pembuluh arteri dan vena yang membuat pasien berisiko tinggi mengalami pembekuan darah.

Obat Antikoagulan

  1. Heparin, merupakan substansi alami yang berasal dari hati berfungsi untuk mecegah pembentukan bekuan darah. Fungsi utama dari heparin ini adalah untuk menceagh trombosis vena yang bisa menimbulkan emboli paru.
    Dosis : Dosis pemuatan: diberikan dosis 75-80 U / kg berat badan atau 5.000 U, kemudian 18 U /kg berat badan / jam atau 1.000-2.000 U / jam. Diberikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah).

    - Farmakologi
     

    Heparin bekerja secara tidak langsung dengan bantuan suatu Plasma Kofaktor, yaitu :
    AntiTrombin III (suatu α-globulin) untuk menetralisir faktor-faktor XIIa; Kalikrein; XIa; IIa; XIIIa.
    AntiTrombin III + Heparin membentuk kompleks yang berafinitas lebih besar dari anti trombin III sendiri dan irreversibel dengan Trombin, sehingga menjadi inaktif.

    Heparin menurunkan konsentrasi Trigliserida darah. Hal ini disebabkan Heparin 
    melepaskan enzim Lipoprotein lipase (dari jaringan) yang akan menghidrolisis Trigliserida Chilomicron & VLDL yang terikat pada sel endotel kapiler menjadi asam lemak & Gliserid

    - Farmakodinamik

    Heparin diberikan untuk gangguan tromboembolik akut, mencegah pembentukan trombus dan embolisme. Obat ini dipakai dengan efektif pada DIC, yang menyebabkan trombus multipil pada pembuluh darah kecil. Mekanisme kerja heparin adalah dengan mengikat antitrombin III membentuk kompleks yang lebih berafinitas lebih besar dari antitrombin III sendiri, terhadap beberapa faktor pembekuan aktif, terutama thrombin dan faktor Xa. Sediaan LMWH (<6000) beraktivitas anti-Xa kuat dan 26 sifat antitrombin sedang.

    Farmakokinetik
    Heparin tidak diabsorbsi dengan baik oleh mukosa gastrointestinal, dan banyak yang dihancurkan oleh heparinase, suatu enzim hepar. Oleh karena itu heparin diberikan secara parenteral, baik subkutan untuk mencegah antikoagulan atau secara intravena (bolus atau infus) untuk mendapatkan respon yang cepat. Waktu paruh heparin 1 sampai 2 hari. Masa paruhnya tergantung dari dosis yang digunakan, suntikan IV 100, 400, atau 800 unit/kgBB memperlihatkan masa paruh masing-masing kira-kira 1, 2 dan 5 jam.

  2. Trombolitik
    Empat trombolitik yang sering digunakan adalah streptokinase, urokinase, jaringan plasminogen aktivator dan anisoylated plasminogen streptokinase activator complex.

    Farmakokinetik

    Streptokinase
    dan urokinase memiliki waktu paruh ynag singkat, tetapi dapat bertahan sampai sedikit lama. kedua obat enzim ini diberikan secara intravena dan diansorpsi dengan segera.
     
         
- Farmakodinamik
Stertokinase dan urokinase bekerja dengan cara merangsang mekanisme fibrinolitik untuk melarutkan bekuan darah. onset kerja, puncak kerja, dan lama kerjanya sama untuk keduanya.


REFERENSI

Firani, N. K. 2018. Mengenali Sel-sel Darah dan Kelainan Darah. UB Press, Malang. 

Kee, J. L dan E. R. Hayes. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. EGC, Jakarta.

PERTANYAAN

1. Di dalam tubuh terdapat zat kimia Serotonin. Seperti diketahui serotonin ini banyak terdapat di            otak, namun serotonin juga terdapat di trombosit. seperti apa reaksi serotonin terhadap proses                pembekuan darah ? apakah akan mengganggu proses pembekuan darah dalam tubuh?
2. Pada saat mimisan organ hidung akan mengeluarkan darah ada yang banyak dan ada juga yang            sedikit. Namun mimisan membutuhkan waktu untuk darah berhenti mengalir. mengapa pada saat            mimisan tidak langsung terjadi proses pembekuan darah? apakah ada mekanisme khususnya?
3. Pada saat menstruasi tubuh wanita banyak menghasilkan hormon dan zat kimia lainnya dalam                tubuh. pada saat menstruasi ini bolehkah mengkonsumsi obat antikoagulan? bagaimana interaksi            antikoagulan terhadap hormon seperti progeteron dan estrogen?

Antihistamin (II) : Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin

 HISTAMIN

Seluruh organ dan jaringan memiliki histamin baik dalam bentuk terikat maupun inaktif. Histamin merupakan amin nabati atau biamin yang merupakan produk normal dari pertukaran zat histidin melalui dekarboksilasi enzimatis. asam amino ini berada di dalam daging (protein) dan jaringan di usus halus) yang secara enzimatis diubah menjadi histamin (dekarboksilasi). histamin berkaitan erat dengan sistem kekebalan tubuh karena menyebabkan reaksi alergi pada tubuh. 

Berikut adalah reaksi biosintesis Histidin menjadi Histamin


ANTIHISTAMIN

Antihistamin atau dikenal juga sebagai penghambat H1. Pada sistem saraf pusat Antihistamin memiliki efek antikolinergik yang peka terhadap mabuk perjalanan. Antihistamin bekerja di dalam tubuh dengan cara memblokir reseptor histamin. 


- Turunan Propilamin

    Antihistamin turunan propilamin ini dibagi menjadi dua, yaitu turunan propilamin jenuh dnan turunan propilamin tidak jenuh.

Turunan Propilamin Jenuh contohnya adalah Feniramin, Klorfeniramin, Deksklofeniramin, Bromfeniramin, dan Deksbromfeniramin. 


Turunan Propilamin tidak jenuh contohnya adalah Pirobutamin dan Triprotidin.

Perbedaan antara turunan propilamin jenuh dan tidak jenuh

✔ Turunan propilamin jenuh merupakan molekul kiral, garam yang dibentuk dengan d- asam tartrat dapat memutuskan  turunan tersubstitusi halogen dengan kristalisasi. sedangkan turunan propilamin tidak jenuh memiliki ikatan rangkap dua aromatik yang merupakan bagian penting dari aktivitas antihistamin.

Hubungan struktur dan aktivitas

✔ Feniramin

   memiliki efek antihistamin terendah. biasanya diperdagangkan dalam bentuk campuran rasematnya       dan harus diberikan bersama makanan.

    Feniramin juga memiliki sedikit efek antiemetik.

    Waktu paruh: 12-15 jam

    Dosis: 25 mg 3 kali sehari

✔ Klorfeniramin maleat

    klorfeniramin maleat atau biasa dikenal dengan CTM merupakan antihistamin yang sangat sering         digunakan. CTM memiliki aktivitas 20 kali lebih besar dibandingkan engan feniramin.

    Waktu paruh: 12-15 jam

  ✔  Deksklofeniramin

        merupakan isomer dekstro klorfeniramin maleat dan memiliki aktivitas yang lebih besar                         dibandingkan dengan campuran rasematnya.

✔Bromfeniramin maleat

    memiliki aktivitas ynag sebanding dengan CTM

✔Dimentinden maleat

    biasa digunakan untuk pengobatan pruritik dan alergi serta aktif dalam bentuk isomer levo.

    

    KLORFENIRAMIN MALEAT (CTM)

CTM merupakan obat alergi yang sangat populer di kalangan masyarakat dan banyak digunakan dalam sediaan kombinasi. Aktivitas antihistamin akan meningkat jika pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik. 

Indikasi dan efek samping

    indikasinya yaitu dapat mengobati tanda-tanda alergi seperti bersin.

    efek sampingnya dapat menyebabkan kantuk, mual, sakit kepala, mulut kering, dada sesak.

Farmakodinamik

    Klorfeniramin maleat (CTM) bekerja dengan cara menghambat efek histamin yang ada pada                 pembuluh darah, bronkus, dan otot polos. klorfeniramin maleat juga dapat merangsang atau                    menghambat susunan saraf pusat.

Farmakokinetik

        penyerapan obat terjadi dengan cukup baik di dalam saluran cerna lebih kurang sekitar 70% obat            terikat oleh protein plasma. CTM diberikan secara oral dan kadar darah tertinggi obat dicapai 2-3            jam setelah pemberian oral berlangsung. waktu paro plasma selama 12-15 jam.

- Turunan Fenotiazin

    Fenotiazin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati perilaku psikotik pada pasien rumah         sakit jiwa.Fenotiazin dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

1. Fenotiazin Alifatik, menghasilkan efek sedatif yang kuat

2. Fenotiazin piperazin, menghasilkan efek sedatif sedang

3. Fenotiazin Piperadin, memiliki efek sedatif yang kuat




Hubungan Struktur dan Aktivitas

✔Prometazin

    menimbulkan efek antihistamin, antikolinerhik dan pemblok alfa kolinergik

✔Trimeprazin

    memiliki aktivitas antihistamin lebih besar yaitu 1,5-5 kali lebih besar dan juga memiliki aktivitas         antipruritik

✔Metdilazin

    memiliki aktivitas anastesi lokal jika tablet kunyah tidak segera ditelan

        PROMETAZIN HCL

merupakan garam berbentuk serbuk kristalin berwarna kuning muda yang larut dalam air, alkohol, dan kloroform. senyawa ini juga memiliki aktivitas sebagai antiemetik dan dapat menghoptimalkankerja obat analgetik dan sedatif.

indikasi dan efek samping 

indikasinya digunakan untuk mengobati gejala alergi fatal, mabuk, mual, menenangkan

efek sampingnya yaitu kejang-kejang, gemetar, kulit pucat, demam tinggi, jarang buang air kecil, berkedut tak terkendali, halusinasi, nyeri sendi

Farmakodinamik

mekanisme kerja prometazin HCl yaitu dengan cara menghambat histamin agar tidak terjadi reaksi alergi dan mempengaruhi asetilkolin serta beberapa bagian tertentu pada otak untuk meredakan mual dan memberikan efek penenang.

Farmakokinetik

Distribusi

Distribusi di dalam tubuh dipengaruhi oleh ikatan protein plasma.

Metabolisme

Dimetabolisme di dalam hati dengan  enzim CYP 6 (Sitokrom P450), 

Waktu paruh

10 jam (im), 16-19 jam (sirup), 9-16 jam (iv).

Ekskresi

utamanya di kandung kemih dan minor melalui feses.


REFERENSI

Kee, J.L dan E. R. Hayes. 1996. Farmakologi: pendekatan proses keperawatan. EGC, Jakarta.

Sari, F dan S. W. Yenny. 2018. Antihistamin terbaru dibidang dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 7(4): 61-62.

Siswandono. 2016. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Airlangga University Press, Surabaya.

Tjay, T. H dan Rahardja, K. 2007. Obat-obat Penting Khasiat Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. PTElex Media Computindo, Jakarta.


PERTANYAAN

1. jika antihistamin digunakan bersamaan dengan antibiotik, apakah akan berpengaruh terhadap struktur kimia serta seperti reaksi terhadap sistem saraf pusat ?

2. Apabila feniramin tidak dikombinasikan dengan rasematnya apakah akan memiliki efek yang sama? lalu bagaimana mekanismenya?

3. Dilihat dari segi hubungan antara aktivitas-struktur apa yang akan terjadi jika salah satu rantai Struktur putus/hilang/digantikan dengan Atom lain? jelaskan bagaimana prosesnya?

Minggu, 22 November 2020

Antihistamin (I):Turunan etilendiamin dan Turunan kolamin

 




1.      Histamin

 

Ø  Pengertian

   Histamin atau hormon lokal banyak dikenal sebagai penyebab utama timbulnya peradangan dan gejala alergi. Histamin adalah amina dasar yang terbentuk oleh histidine dekarboksilase dari histidin.penyebab terjadinya alergi di dalam tubuh karena adanya aktivitas histamin di dalam tubuh. histamin berperan sebagai penghalang pada benda asing yang akan masuk ke dalam tubuh, dengan adanya reaksi histamini inilah akan terjadi reaksi alergi pada tubuh ( Sari dan Yenny, 2018 ).

 

Ø  Mekanisme

  Efek histamin akan timbul jika berikatan dengan reseptor histaminenergi yaitu reseptor H1, H2, dan H3

    Ada beberapa aktivitas penting histamin di dalam tubu, yaitu 

  • kontraksi otot polos bronchi, usus, dan rahim 

  • vasodilatasi semua pembuluh dengan penurunan tekanan darah 

  • memperbesar permeabilitas kapiler untuk cairan dan protein jaringan akibat udema dan  pengembangan mukosa 

  • hipersekresi ingus dan air mata, ludah, dahak dan asam lambung 

  • stimulasi ujung saraf dengan eritema dan gatal-gatal

 

Ø  Struktur kimia








2. Antihistamin

Pengertian

Antihistamin merupakan kelompok obat-obatan yang digunakan untuk mengobati reaksi atau zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin. Antihistamin dan histamin berlomba untuk menempati reseptor yang sama. 

Ø  Macam-macam Antihistamin 

Ada empat tipe reseptor histamin, yaitu H1, H2, H3, dan H4 yang keempatnya memiliki fungsi dan distribusi yang berbeda. namun yang dikenal secara luas hanya reseptor histamin H1 dan H2. Reseptor H1 ditemukan pada neuron, otot polos, epitel dan endotelium. Reseptor H2 ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium, dan jantung. Sementara reseptor H3 dan H4 ditemukan dalam jumlah yang terbatas. 

Ø  Mekanisme Kerja Antihistamin

Antihistamin bekerja dengan cara berlomba dengan histamin untuk menempati reseptor yang sama di dalam tubuh. Antagonis H1 akan memblokade reseptor dengan cara menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehibgga dampak dari histamin ini juga akan terhambat misalnya kontraksi otot polos.

Menurut Pohan (2007), penemuan terbaru membuktikan bahwa antihistamin H1 bukan hanya sebagai antagonis tetapi dikenal juga sebagai inverse agonist yang dapat menghambat aktivitas dari reseptor H1. Sedangkan antagonis H1 tidak memiliki pengaruh terhadap aktivitas reseptor H.


Ø  Pembagian Antihistamin

Berdasarkan bentuk strukturnya:

*      Ethylenediamines

*      Etholamine

*      Alklamine

*      Phenothiazine

*      Piperazine

*      Piperidine

Berdasarkan perbedaan bentuk strukturnya 

  • Turunan Etildiamin

        kelompok ini umumnya memiliki daya sedative lemah. Contohnya ada Antazolin,    Klemizol dan Mepirin.

 

 



 

    • Antazolin

      Memiliki daya antihistamik yang kurang kuat dan tidak dapat merangsang selaput lender. Biasa digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung. Antazolin juga memiliki efek anestesi setempat.

    • Klemizol
      Merupakan derivate dari klor yang digunakan pada preparat kombinasi antiselesma, suppositoria obat wasir, dan salep.

    • Mepirin
      Merupakan derivate dari tripelenamin yang dapat dikobinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin.

  • Turunan Kolamin (Eter Amino Alkil)
    Merupakan senyawa yang memiliki aktivitas antikolinergik karena strukturnya mirip dengan aminoalkohol.

   


                       

  • Dengan adanya gugus CL, Br, dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik juga dapat meningkatkan aktivitas serta efek samping obat. Sedangkan dengan adanya gugus CH3 akan meningkatkan aktivitas. Bila pada posisi orto akan menghiangkan efek samping dari H1 serta dapat meningkatkan aktivitas antikolinergik. 

  • Contohnya Difenhidramin HCL, Dimenhidrinat, Karbinoksamin maleat, Klemasetin Fumarat, Pipirinhidrinat.

-          Difenhidramin HCL

Merupakan obat yang dapat digunakan untuk meredakan reaksi alergi dalam tubuh. Difenhidramin HCL juga merupakan antihistamin kuat yang memiliki aktivitas farmakologi antihistamin, antispasmodik, antiemetik, parkinsonisme.

Dosis: Dewasa 25-50 mg 3 kali sehari, Anak 5 mg/kg bb sehari.

 

 

Farmakodinamik

Bila difenhidramin berikatan dengan reseptor histamin H1 dapat mengurangi dampak yang tidak diinginkan yang disebabkan karena ikatan histamin bebas dengan reseptor histamin  H1 seperti respon inflamasi, vasodilatasi, bronkokonstriksi dan edema. Bila obat natihistamin H1 berikatan dengan reseptor histamin akan dapat mengurangi aspek transkripsi respon imun NF-kB melalui fosfolipase C. Difenhidramin merupakan antihistamin generasi pertama yang dapat melewati sawar otak dan dapat berikatan dengan reseptor histamin H1 yang beradfa di otak sehingga memberikan dampak sedasi meski dosis terapeutik telah diberikan secara benar.

 

Farmakokinetik

  Absorbsi

Difenhidramin diabsorbsi melalui saluran cerna dan membutuhkan waktu kurang lebh 1-4 jam untuk mencapai konsentrasi plasma puncak.

Distribusi

Didistribusikan ke seluruh tubuh termasuk system saraf pusat dn dapat berikatan dengan protein plasma.

*      Metabolisme

Hati merupakan tempat metabolism utama obat Difenhidramin. Di hati Difenhidramin dimetabolisme menjadi N- Desmetildiphenhydramine serta diphenhidramin N- glikoronida.

*      Ekskresi

Diekskresi melalui kandung kemih berwujud metabolit namun terkadang masih berupa obat utuh. Waktu paruh eliminasi dari tubuh sekitar 2,4-9,3 jam.


REFERENSI

Sari, F dan S. W. Yenny. 2018. Antihistamin terbaru dibidang dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 7(4): 61-62.

Nugraha, G., O. Indriani dan L. Z. Chan. 2019. Pengembangan Senyawa Turunan Indol Sebagai Anti Histamin 4 Dengan Pemodelan Hubungan Kuantitatif Struktur Aktivitas Menggunakan Metode Semi Empiris Austin Model 1 (Am1). Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan. Vol  11: 213-224.


PERTANYAAN
1. bagaimana interaksi obat antihistamin seperti alleron dengan antidepresan seperti alprazolam dan dengan obat Demensia seperti Fepezil?
2. Bilastin merupakan obat antihistamin generasi kedua, jelaskan apakah Bilastin boleh digunakan oleh Ibu hamil yang memiliki riwayat hipertensi lalu bagaimana reaksi terhadap pertumbuhan janin?
3. Sebagian orang mengkonsumsi antihistamin terus-menerus, apakah terdapat perubahan hormon dalam tubuh dan apakah ada pengaruh terhadap saraf-saraf dalam tubuh?